Lidah Mertua jadi salah satu solusi dari pemerintah provinsi DKI Jakarta untuk membersihkan polusi udara yang ada di ibu kota yang pasalnya makin memburuk dari tahun ke tahun. Masalah polusi udara di Jakarta pasalnya tengah jadi bahan perbincangan di pertengahan Juni lalu dan sempat menjadi peringkat teratas kota yang memiliki kualitas udara paling buruk di dunia versi Air Visual. Kualitas udara yang ada di Jakarta tergolong sudah sangat tidak sehat.

Jakarta Jadi Kota dengan Polusi Tertinggi di Dunia

Menurut pemantauan satelit LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional) tanggal 17 Juli lalu, tercatat bahwa kondisi polusi udara di Jakarta sudah makin mengkhawatirkan. Selain di Jakarta, kondisi polusi udara yang makin parah juga terjadi di Surabaya dan Medan.

Kualitas udara yang sangat buruk terjadi karena adanya peningkatan emisi atau pun pelepasan PM 2.5 dari kendaraan bermotor dan juga industry. Kondisi togel online singapore ini pasalnya juga dipicu oleh musim kemarau yang masih terjadi sampai saat ini.

Untuk menjawab keresahan warga DKI Jakarta, pemerintah kemudian mengajukan sebuah tanaman bernama Lidah Mertua. Tanaman ini rencananya akan diletakkan di atap-atap Gedung perkantoran pemerintah. Dengan demikian, diharapkan tanaman Lidah Mertua ini bisa menghilangkan zat beracun yang ada di langit Jakarta.

Kenalan dengan Tanaman Lidah Mertua 

Tanaman Lidah Mertua adalah tanaman dengan nama latin Sansevieria yang mana asalnya dari suku Asparagaceae. Untuk masyarakat Indonesia, tanaman ini pasalnya sebetulnya bukan tanaman yang asing. Lidah Mertua juga dikenal dengan tusuk gigi gajah atau ada yang menyebutnya dengan tanaman ular yang dijadikan sebagai tanaman hias yang diletakkan di pekarangan rumah. Bahkan ada beberapa yang meletakkannya di dalam ruangan.

Daunnya yang kuat dan keras serta bentuknya yang runcing dan panjang membuat tanaman ini mempunyai estetikanya sendiri.

Pengamat kesehatan lingkungan yang berasal dari University of Derby Inggris, bernama Dono Widiatmoko mengatakan bahwa setiap tumbuhan bisa mengurangi polusi udara pada umumnya, termasuk tanaman Lidah Mertua.

“Pada umumnya, segala jenis tumbuhan pasalnya akan membantu proses mengurangi dampak dari polusi udara. Tumbuhan bakal menangkap partikel polusi di udara. Tumbuhan bakal menangkap partikel polusi di udara, ketika hujan partikel itu akan luruh dan diserap kembali ke tanah,” begitu penjelasannya menurut Dono dilansir dari CNN Indonesia, Rabu (24/7).

Penelitian juga menunjukkan bahwa Lidah Mertua merupakan tanaman hias yang bisa menyerap polusi dan juga menghasilkan oksigen (O2) jauh lebih banyak apabila dibandingkan dengan jenis tanaman hias yang lainnya. Lidah Mertua juga memiliki kemampuan untuk bisa menyarap berbagai macam racun polusi udara, mulai dari Karbon monoksida (C0), Xylene, Toulene, dan Formaldehyde. Zat-zat ini pasalnya menjadi zat racun yang mana banyak dikaitkan dengan kanker.

Studi yang dilakukan oleh NASA juga sudah pernah membuktikan bahwa Lidah Mertua bisa menghilangkan benzene di ruang tertutup dari 0,156 partikel per meter (p/m) jadi 0,074 p/m setelah jangka waktu 24 jam. Kadar formaldehye pun berkurang sebanyak 31.294 mikrogram juga dalam 24 jam. Trikloroetilen dan juga toluene pun berkurang sebanyak 13,4 persen selama 24 jam.

NASA pun merekomendasikan 15-18 tanaman Lidah Mertua untuk rumah yang ukurannya sedang sampai besar 167 meter persegi. Sementara daratan Jakarta mencapai 661, 52 km persegi. Jadi terbayang ada enam ratusan tanaman Lidah Mertua untuk Jakarta.