Perang dan kekisruhan masih menghantui Afghanistan. Senin (29/1) pagi sekitar jam 05.00 waktu setempat, ada sebuah ledakan di dekat Akademi Militer di Kabul, Afghanistan. Namun, belum dapat diketahui sumber ledakan itu. Dilansir dari Reuters, ada seorang saksi, warga Kabul, Mohammad Ehsan yang menyampaikan, kalau terdengar ledakan di dekat Akademi Militer Marshal Fahim.

 

Ledakan Di Afghanistan Tuai Kecaman

Ehsan mengungkapan kalau ledakan itu terdengar kurang lebih sepanjang satu jam. Setelahnya, masih ada ledakan-ledakan lebih kecil, dengan interval waktu yang cukup sering. Terkait dengan peristiwa itu, otoritas setempat belum memberikan keterangan secara resmi.

 

Berdasarkan info dari BBC yang dikutip dari Tolo News Agency, diketahui bahwa akses jalan menuju Akademi Militer Marshal Fahim, sementara waktu sudah ditutup. Diberitakan, ada korban dari ledakan itu, tapi jumlahnya belum diketahui. Kejadian ini menambah catatan buruk di Afghanistan, karena sebelumnya pada Sabtu (27/1) lalu, telah terjadi ledakan bom yang disembunyikan di dalam sebuah ambulans. Bahkan korban yang tewas mencapai 103 orang dan 253 orang luka-luka.

 

Kejadian Sabtu lalu tentu masih membekas di ingatan warga, bahkan lontaran kemarahan pun terlihat di media sosial. Atas serangan yang terjadi Sabtu lalu, kelompok militan Taliban lah yang diklaim bertanggung jawab melakukannya. Setelah ledakan bom itu, otoritas Afghanistan menyatakan hari Minggu (28/1) waktu setempat sebagai hari berkabung nasional. Penjagaan pun ditingkatkan, terutama di pos pemeriksaan yang dekat dengan lokasi terjadinya ledakan.

 

Presiden Joko Widodo Tetap Ke Afghanistan Pasca Ledakan

Sebelumnya, Presiden RI Joko Widodo dijadwalkan akan melakukan kunjungan kerja ke Afghanistan pada Senin (29/1). Afghanistan merupakan Negara sbobet terakhir yang dikunjungi Presiden Joko Widodo dalam rangka marathon kunjungan ke 5 negara dalam minggu ini.

 

Setelah dua kejadian ledakan yang terjadi di Kabul dalam waktu dekat, ternyata tidak membuat Presiden Joko Widodo membatalkan rencana kunjungannya. Setelah dari Bangladesh dan bertemu dengan para pengungsi Rohingya, rombongan Presiden menuju ke Afghanistan. Karena kondisi keamanan disana sedang tidak kondusif, membuat pengamanan untuk Presiden perlu ditingkatkan.

 

Menurut Menteri Sekretaris Negara Pratikno, pengaman untuk Joko Widodo di Afghanistan, sudah sangat maksimal, mulai dari Paspampres sampai pihak keamanan Afghanistan.

“Paspampres masih saya terima dari Dan (Komandan) Paspampres dari pihak Afghanistan sendiri sudah sangat-sangat maksimal dengan mekanisme pengamanan,” jelas Pratikno di gedung Kementerian Sekretariat Negara di Jl Veteran, Jakarta Pusat, Senin (29/1/2018).

 

MenSekNeg itu mengatakan kalau kunjungan yang dilakukan Presiden ke Kabul, memang keinginan keras Joko Widodo, walaupun keadaan keamanan disana saat ini tidak kondusif.

“Pak Presiden sudah bersikeras. Ya, Pak Presiden mau kesana, jadi ya (berangkat),” jelasnya.

 

Pratikno juga mengungkapkan, bahwa keinginan Joko Widodo yang keras itu, adalah bentuk rasa solidaritas Presiden Indonesia terhadap masyarakat Internasional, terlebih Afghanistan merupakan Negara muslim.

“Itu juga bagian dari upaya solidaritas kita di masyarakat internasional, apalagi sesama Negara muslim,” katanya.

 

Seperti yang diketahui, pesawat Kepresidenan Indonesia 1, yang membawa Presiden Joko Widodo dan Ibu Iriana melakukan lepas landas pukul 09.20 waktu setempat atau 10.20 WIB dari Bandara Internasional Hazrat Shahjalal, Dhaka, Bangladesh untuk terbang ke Kabul, Afghanistan.

 

Setelah sampai di Kabul, Afghanistan, Joko Widodo dan Ibu Iriana akan menuju ke Istana Presiden Arg untuk melakukan kunjungan kenegaraan. Disana, Presiden Joko Widodo disambut oleh Presiden Ashraf Ghani. Tak ketinggalan, Presiden juga akan mengikuti serentetan kegiatan kenegaraan, salah satunya adalah Tete-a-Tete, yang merupakan pertemuan bilateral dan menyampaikan pernyataan pers bersama-sama.