BNN (Badan Narkoba Nasional) menyebutkan bahwa Belanda menjadi negara yang tidak koorperatif dalam pengusutan kasus Narkoba. Menurut Deputi Bidang Pemberantasan BNN Arman Depari, padahal Belanda merupakan negara pemasok narkoba yang berjenis ekstasi paling besar ke Indonesia.

Belanda Tak Bisa Koorperatif

Arman juga menyatakan bahwa BNN telah bekerja sama dengan sejumlah negara yang mana diduga menjadi tempat bersembunyinya produsen serta pemasok ekstasi seperti misalnya Belgia, Jerman, Polandia, dan juga Perancis untuk pengusutan kasus narkotika yang ada di Indonesia.

“Beberapa negara ini memang dapat diajak kerja sama, namun ada juga negara yang tak koorperatif, salah satunya ya Belanda. Padahal kita semua tahu bahwa sumber utama ekstasi berasal dari Belanda,” ungkap Arman bertempat di Kantor Bea Cukai, Jakarta, hari Senin (28/5). Arman juga menyatakan kasus pengiriman ekstasi ini belum juga mendapat penanganan dengan baik. Sabu dan ekstasi, ungkap Arman, banyak sekali dipesan beberapa sindikat lokal dari negara kincir angin tersebut.

“Ternyata kasus pengiriman narkoba berjenis ekstasi masih belum ditangani dengan sangat baik sebagaimana diketahui ekstasi yang mana dikirim dari Belanda termasuk juga sabu itu sendiri dipesan oleh beberapa orang dari Indonesia, sindikat lokal yang mana beroperasi di Indonesia,” katanya lagi.

Kasus Narkoba di Tahun 2017

Pada bulan November 2017 yang lalu misalnya saja, Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri yang mana mengungkapkan adanya 600 ribu butir ekstasi, dilakukan oleh 6 orang tersangka yang mana merupakan anggota sindikat internasional yang berasal dari Belanda.

Kepala Bareskrim Komisaris Jenderal Ari Dono Sukmanto berkata bahwa sebanyak 600 ribu butir ekstasi ini mempunyai 3 bentuk, segi enam yang logonya DB, kepala robot, dan juga persegi panjang dengan tulisan ‘Double Trouble.’

Menurut Ari sendiri, pengungkapan peredaran ratusan ribu pil ekstasi yang sudah dimasukkan ke dalam 120 buah bungkus ini dilakukan selama 3 hari sejak tanggal 8 sampai dengan tanggal 10 November 2018. Ia juga membeberkan, keenam tersangka adalah Sonny Sasmita (40), Andang Anggara (26), Handayana Elkar Manik (31), Waluyo (37), Randy Yuliansyah (22), dan Dadang Firmansyah alias AAN (22).

“Kami mengungkap peredaran ekstasi bentuk 3 warna dengan berat total 243.20kg atau sebanyak 600 ribu butir,” jelasnya di kantor sementara Bareskrim, Gambir, Jakpus, Kamis (23/11/17) silam.

Adanya Modus Peredaran Baru

Selain itu juga, BNN mengungkapkan modus baru peredaran narkotika di Indonesia yaitu dengan menggunakan jasa pengiriman barang. Hal tersebut bisa diungkap dalam operasi April yang lalu di mana BNN berhasil menyita sebanyak 15.487 butir ekstasi.

Seluruh ekstasi itu pasalnya dikirim dalam 5 paket kecil dengan besaran yang masing-masing yakni 3.080 butir, 2.983 butir, 3.268 butir, 2.993 butir, dan 3.163 butir. Selain mempergunakan jasa kurir pengiriman barang, pil-pil ekstasi itu tak lagi dikirim lewat satu paket besar, melainkan disebar lewat beberapa paket kecil secara serentak.

Masyarakat pasti sudah pernah mendengar modus baru ini karena sempat viral di media sosial. “Upaya penyelundupan dengan modus operandi dengan menggunakan paket pos bahwa akhir ini ada peningkatan. Dan pertukaran modus operandi yang mana banyak pengiriman togel singapore dalam jumlah yang besar, jadi jumlah kecil secara serempak,” ungkap Arman lagi.

Dengan ini BNN berharap semua pihak termasuk pihak Belanda mau bekerja sama dengan lebih koorperatif lagi atas apa yang diinginkan Indonesia ini.