Beberapa waktu lalu jagat dunia sepakbola nasional dihebohkan dengan meninggalnya salah satu legenda timnas Indonesia, Ricky Yacobi. Tentu banyak orang berduka termasuk keluarga, rekan, fans, dan semua orang yang mengenal beliau. Meski demikian, masih banyak yang belum mengetahui kronologi kejadiannya.

Ricky meninggal sewaktu bermain sepakbola bersama rekan-rekan. Beliau bahkan sempat mencetak gol sebelum menghembuskan nafas terakhir di pertandingan persahabatan itu.

1. Gol Terakhir Ricky Yacobi

Ricky adalah mantan strikeratau penyerang di tim nasional Indonesia. Meninggal di lapangan hijau mungkin tidak akan membuatnya menyesal. Dia tutup usia di umur 57 tahun saat menghadapi tim Trofeo Medan Selection bersama teman-teman. Pertandingan tersebut berlangsung di Lapangan A wilayah Gelora Bung Karno, Jakarta.

Menurut kesaksian dan pemeriksaan, dia meninggal karena terkena serangan jantung ketika bertanding. Ricky terjatuh setelah bermain sekitar 15 menit dan sempat mencetak gol. Sebelum melakukan selebrasi gol, dia tiba-tiba terjatuh dalam posisi tengkurap.

Seketika itu juga semua rekan menghampiri untuk mencari tahu apa yang terjadi. Saat dilihat, pria kelahiran 12 Maret 1963 ini sudah pingsan atau tidak sadarkan diri (namun masih bernafas). Rekan-rekan berusaha melakukan pertolongan dengan cara menarik lidah Ricky dan melakukan protokol CPR. Tetap saja, usaha tersebut tidak membuahkan hasil positif.

Solusi terbaik togel hk saat itu adalah segera memanggil pihak medis dan membawa sang legenda ke rumah sakit Mintoharjo. Akan tetapi, beliau tidak dapat tertolong dan meninggal di sana.

Mendengar kabar duka, pihak PSSI mengucapkan bela sungkawa. Mochamad Iriawan mendoakan Ricky supaya tenang dan diterima semua amal ibadahnya oleh Allah SWT. Iriawan mempostingnya di halaman resmi Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia.

2. Sepak Terjang Ricky Yacobi

Dulu sewaktu masih bergabung di tim nasional Indonesia, Ricky menempati salah satu posisi penyerang. Dia adalah pemain bola di era 80-an dan ikut berjuang di Seoul pada kompetisi Asian Games. Saat ini, mereka hanya mampu menempati posisi 4 karena kalah dari Kuwait di laga semi-final.

Untuk informasi, beliau merupakan pemain bola nasional pertama yang pernah berlaga di J-League atau Liga Jepang! Saat itu, dia bermain untuk tim Matsushita Electric FC. Tim ini merupakan nenek moyang dari Gamba Osaka. Nama asli sebenarnya adalah Ricky Yacob. Namun, dia mendapatkan imbuhan “i” setelah masuk di klub Jepang.

Karir Ricky bersama ME FC dimulai di tahun 1988. Dia direkrut setelah berhasil memukau perhatian lewat penampilan di Asian Games. Awalnya, dia bermain untuk klub Arseto Solo.

Meskipun cukup membanggakan nama Indonesia karena bermain di Matsushita, karir Ricky tidak begitu lama di sana. Alasan utama adalah daya tahan tubuh sang pemain. Menurut kabar dari media, Ricky tidak bisa beradaptasi dengan musim salju atau cuaca dingin di Jepang.

Meski demikian, dia sempat menorehkan satu gol dari empat pertandingan yang dia lalui bersama ME FC. Karir singkat ini tetap menjadi inspirasi bagi para pemain lain yang ingin berlaga di luar negeri. Ini terbukti di era 1990-an karena semakin banyak pemain nasional yang di ekspor ke negara-negara tetangga.

Kini, teman-teman Ricky hanya bisa mengenang dan mendoakannya. Salah satunya adalah Bambang Nurdiansyah, yang juga mantan striker top di timnas. Keduanya sering menggantikan satu sama lain ketika berlaga. Meskipun memiliki usia 3 tahun lebih tua, B. Nurdiansyah merasa bahwa kemampuan Ricky Yacobi tidak jauh dengan dirinya. Wajar bila timnas sering bingung ketika memilih salah satu ketika berlaga di pertandingan-pertandingan penting.


Champions League -Manchester United Training

Pertempuran derby yang hebat baru saja selesai. Man United bertandang ke Man City. Hasilnya seperti yang sudah diprediksikan, lagi-lagi The Red Devils harus tunduk dibawah ketiak The Citizen. Performa Man Utd juga terlihat menurun walaupun sebelumnya mereka memiliki kepercayaan diri usai mengalahkan Juventus di Liga Champions. Sayangnya, Man Utd belum menunjukkan peningkatan yang signifikan usai ditinggal oleh Sir Alex Ferguson. Gary Neville, mantan pemain United memberikan catatan khusus tentang masalah di tubuh United.

Bukan Kesalahan Manajer

Usai kekalahan di Etihad, Man Utd kini memiliki selisih cukup jauh yakni 12 poin di bawah City di table klasemen sementara Premier League dan peluang untuk meraih gelar musim ini pun semakin sedikit. Mereka membutuhkan keajaiban dan tentunya kerja keras jika ingin meraih gelar. Mantan bek United, Neville mengatakan dia tidak menyalahkan Mourinho dengan hasil tersebut karena beberapa hal, salah satunya sistem di dalam United sendiri.

Dia mengatakan; “Bahkan dengan pemain yang dia bawa, dia masih terjebak dengan pemain dari manajer sebelumnya,” kata Neville. Maksudnya adalah, Mou memilih sendiri pemain yang didatangkan ke United, akan tetapi, Mou dianggap masih terjebak dengan gaya permainan manajer sebelumnya. Jadi, ini dianggap bukan merupakan kesalahan Mou, karena pemain sendiri sekalipun belum bisa terlihat memainkan peran dengan baik.

Neville katakana; “Ini pertanyaan untuk Jose Mourinho, di mana posisi Manchester United saat ini?” Dia berpendapat jika permainan inibukan seperti masalah bagaimana menemukan potongan akhir dari sebuah jigsaw dan United bisa menang secara tiba-tiba hanya karena menemukan potongan tersebut.

Dia melanjutkan; “Ketika Anda melihat togel hongkong , Anda bahkan tidak yakin potongan apa yang hilang dan dibutuhkan pemain dan pelatih yang duduk dan bekerja bersama.Mereka menyelesaikan musim kedua terakhir dengan penyelesaian terbaik setelah Sir Alex Ferguson. (Tapi) Sangat membingungkan menonton Manchester United karena Anda tidak tahu apa atau siapa yang harus berubah.”

Neville tegaskan bahwa ini bukan masalah manajernya. “Jose Mourinho telah menang di mana pun dia berada – dia telah memenangkan 20 gelar, poin saya adalah: David Moyes tidak bisa memilah grup, Louis van Gaal tidak bisa memilah grup dan sekarang Jose Mourinho, manajer paling sukses, (juga) tidak bisa memilah grup.

Masalahnya Ada Pada Struktur

Gary Neville menganalisa apa yang menjadi masalah bagi Manchester United usai alami kekalahan besar 3-1 dari Manchester City. Dia mengatakan mereka memiliki “masalah secara struktural”. Walau demikian, Neville masih memiliki keyakinan pada Jose Mourinho. Ini yang menarik, karena faktanya usai Sir Alex Ferguson, ada cukup banyak pelatih yang mengambil alih posisinya, namun belum bisa ada yang menyamainya.

“Saya tidak akan terlalu cepat memberi kesimpulan dan mengatakan hal itu karena kesalahan staf pelatih – ada masalah secara struktural di klub ini yang berarti akan sulit bagi pelatih untuk membuat tim ini tampil (maksimal).Aku masih percaya padanya, pasti (ia) melalui momen yang sulit, tapi dia telah menjadi pemenang di mana pun dia berada.”

Selain itu, ada pemain yang masih menjadi andalan tim. Hanya saja, pemain tersebut masih belum bisa tampil. Mereka adalah Paul Pogba dan Romelu Lukaku. Pogba absen karena cedera dan Lukaku juga tidak bisa maksimal karena masih cedera juga. Neville mengatakan tidak adanya Pogba merupakan pukulan besar bagi United.

“Ketika saya mendengar dia tidak ikut dengan tim pagi ini, saya pikir Manchester United berada dalam kesulitan besar karena saya membayangkan lini tengah [Nemanja] Matic, [Marouane] Fellaini dan [Ander] Herrera dan bertanya-tanya bagaimana mereka akan dapatkan bola melewati lini tengah,” imbuhnya.